
"Gimana cara supaya diputusin?" tanya seorang sahabat pada saya. Pacarnya juga sahabat saya, mereka pacaran selama kurang lebih dua tahun dan selama ini saya melihat hubungan mereka manis-manis saja. Dan setahu saya pacarnya, selain mapan, adalah tipe pria yang baik-hati,pelindung, mengayomi, ngemong, dewasa dan sejumlah kata sifat lain yang memungkinkan dia untuk dimasukkan ke dalam daftar 'calon suami idaman semua wanita dan orangtua wanita'. Tapi ternyata, 'borok-borok' di dalem hubungan mah siapa yang tau ye?
Eh jadi mikir, ada beberapa tabloid gosip (iyee, tabloid gosip emang guilty pleasure saya) yang membahas tentang betapa mesra, akur, rukun, aman, damai, padat, merayapnya hubungan sepasang selebritas itu agak sotoy yah? Kerukunan kan bisa direkayasa, bisa jadi itu cuma dikemas sedemikian rupa di luaran, soalnya dimasukin dalam berita tabloid sih --- untuk konsumsi publik. :P
Aaaanywayyy...
Sahabat saya itu tidak menceritakan secara detil ada apa dengan hubungannya dan pacarnya, tapi dari situ saja, saya sudah mampu menyimpulkan bahwa ada yang salah dengan hubungannya; ada satu ganjalan yang sudah tidak dapat ditoleransi lagi, entah apa bentuknya. Kalau dia nggak cerita, ya saya nggak nanya, nggak mau kepo.
Dan saya juga nggak berminat untuk menyarankan agar mereka break dulu untuk saling mengintrospeksi diri dan bilang '..sayang, hubungan yang udah lama seperti ini harus berakhir...' seperti selayaknya orang-orang bijak yang berusaha memersatukan pasangan menikah yang hendak bercerai. Bok, mereka kan masih pacaran, dan istimewanya pacaran, komitmennya nggak pake diembel-embeli ikatan hukum negara dan agama, kalau hubungan sudah menyiksa salah satu (atau kedua belah) pihak, mau udahan ya udahan aja, putus ya putus, nggak pake ribet, nggak perlu repot-repot mikirin hal lain di luar perasaan. (contoh : Bertahan demi anak, demi nama keluarga etc).Tul nggak?
"Gue pengen putus iniii..."
"Ya, gimana kalo bilang langsung, honey,putus yuuuk..." jawab saya.
"Udaaah! Berkali-kali! " Sahabat saya tersebut manyun,"Tapi selalu end-up dengan perasaan bersalah,berasa jahat banget aja gitu gue."
"Kok bisa?"
"Karena laki gue baek banget! Lu juga tau kan?"
"Ngng, iya sih."
Lalu bagai keran yang dibuka, meluncurlah kisah bagaimana usaha-usaha putus sahabat saya ini selalu gagal total.Menurutnya pacarnya selalu menolak setiap diputusin, ia berjanji bakal memperbaiki sikapnya yang tidak disukai oleh sahabat saya (tapi sahabat saya kekeuh nggak cerita sikap apa yang dimaksud).
"Tapi dia selalu ngulang hal yang itu-itu lagi. Kan lama-lama gue sebel! Karena sebel menumpuk, gue jadi ilfil. Muak."
Yaaa, bukan kisah baru.
"Gue pernah kekeuh bertahan sama pendirian putus gue, sih..."
"Terus?"
"Dan akhirnya dia setuju."
"Lah, terus?"
"Cuma dia pake sok pamit sama keluarga gue gitu dan minta maaf kalau nggak bisa jadi yang terbaik buat gue." ia mengerucutkan bibirnya.
"Serius lo?" saya membelalak,"Ehm, eh, tapi wajar sih, kan hubungan kalian udah lama nih, dia udah kenal keluarga lo dengan baik,wajar kalo pamitan, ya nggak?"
"Iya, mungkin wajar. Tapi akibatnya seluruh keluarga menyudutkan gueeeee...Huh." ia tambah manyun.
Mau tidak mau saya terkekeh geli.
"Dan belum cukup sampe di sana, dia tetap menjalin silaturahmi dengan SELURUH ANGGOTA keluarga gue, malah sampe ke tante-tante, oom-oom gue,sepupu-sepupu gue. Lebay, ih! Dia baiiiik banget sama mereka. Padahal waktu masih jadian sama gue keknya nggak segitunya tuh."
Dan saya tambah terkekeh,membayangkan bahwa 'kebaikan' pacarnya pasti semakin menyudutkan sahabat saya.
"Nggak usah ketawa deeeh. Ini bukan hal yang lucu." Omelnya.
"Sori, gue ngebayangin, kalo ini sinetron, posisi lu sebagai tokoh antagonis dan dia sebagai tokoh protagonis yang dizhalimi."
Selesai berbicara seperti itu, mendadak satu hal terlintas di benak saya.
"Is he playing victim? Memosisikan dirinya sebagai korban?" cetus saya.
".....itu, maksud gue!"
Ah! Oke. Bukan cuma di sinetron dan drama-drama saja tokoh yang dizhalimi pasti mendapat simpati. Jadi trik untuk 'disayangi' sejuta umat, kalau disakiti, tetaplah bersikap baik, maka kau akan mendapatkan dukungan sejuta umat untuk meraih apa yang kau mau.
Ih, maab, terdengar sinis sekali ya. Hihi. Ga maksud. Tapi emang iya kan, gitu sistemnya?
"Dan end upnya, gue nyambung lagi, nyambung lagi atas dukungan seluruh anggota keluarga gue. Padahal udah eneg. Dan setiap udah nyambung lagi, dia balik lagi kayak gitu. Huh."
Saya menatapnya.
"Nah, sekarang gimana supaya gue diputusin? It'll be better i guess, kalo dia yang mutusin gue duluan."
Saya tertawa. Sejauh yang saya tahu, dari cerita banyak orang, segala trik supaya diputusin itu ujung-ujungnya menyebabkan kekacauan. Been there done that too, by the way. ;-)
Tapi saya beberkan juga padanya.
1. Cuekin abis.
Pengalaman saya ini malah jadi ribet, pasangan jadi sibuk nanya-nanyaaaa melulu. Berisik.
2. Mendadak jadi posesif, obsesif, jelesan, menyek abis, bergantung pada pasangan,tidak pengertian.
Ada dua kemungkinan, kalau pasangan doyan, malah jadi bertahan lama (eh serius loh, ada cowok yang demen banget kalau ceweknya begitu, saya herman. Sakit dia! Haha), kalau pasangan nggak doyan, jadinya berantem yang belum tentu ujungnya putus. Capek diberantemnya.
3. Selingkuh dan sengaja dibuat ketahuan.
Lah kalau dimaafkan? Dimaafkan tapi tidak dilupakan --- setiap saat pasangan selalu menyindir-nyindir soal selingkuh. Dang.
4. Cari kontrak kerja di tempat yang jauh.
Cukup repot, kalau sampai harus cari tempat kerja yang jauh. Mending kalau pasangannya menyerah, kalau teteub ngejar? Yuk mari.
5. Ini berdasarkan teori general bahwa kebanyakan pria takut komitmen, jadi ajak dia kawin.
Nah, kalau ternyata kebetulan pasangan adalah tipe yang gak takut komitmen dan malah girang diajak kawin? NAH LOOOO!
6. Bikin gara-gara sama sahabat pasangan, bikin gara-gara sama ortu pasangan.
Bok, nambah musuh. Bermasalah dengan satu orang kok jadi merembet ke banyak orang.
7. Bandingin sama mantan.
Ng, belum tentu putus kan? Paling kesel, terus berantem. Nah berantemnya males.
Sahabat saya tampak tertarik mendengar cara-cara yang saya beberkan, tapi saya bilang,"Kemungkinan gagalnya banyak juga loh bow. Udahlah, pengen putus mah, putusin aja duluan. It's easier. Buat tegas : Gue pengen putus dengan lo. Dan gue nggak mau berhubungan dengan lo. Titik nggak pake koma atau tanda baca lain."
Sahabat saya tercenung.
"Soal keluarga lo, well, hubungan lo dan dia, bukannya elo dan dia yang ngerasain? Dan bukannya segala ketidaknyamanan lo karena hubungan elo itu ngaruhnya ke hidup lo? Bukan keluarga lo? Kenapa lo nggak bertahan aja dengan pendirian lo?"
Iya, kalau emang ngerasa sebuah hubungan itu sama sekali tidak membangun, dan pengen putus, ya putusin aja dan bertahan dengan keputusan itu. Biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu.Hidup ya hidup kita, ya nggak?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar